PELAKSANAAN PENGEMBANGAN KURIKULUM DI SMK

Dalam era modern seperti saat ini tuntutan Sumber Daya Manusia yang memiliki  kompetensi di bidangnya sangat diperlukan. Terutama untuk mengantisipasi globalilasi yang membawa dampak bagi semua aspek kehidupan. Dunia kerja yang makin hari makin berkembang juga menuntut kompetensi yang mumpuni dan mengharuskan bagi para calon pelakunya untuk mempersiapkan diri mereka secara matang. 
Salah satu lembaga yang menyiapkan para tenaga kerja adalah  Sekolah Menengah Kejuruan. Sebagaimana mengacu pada penjelasan pasal 15 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang  menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dalam pasal tersebut dijelaskan SMK sebagai salah satu pendidikan kejuruan secara umum mempunyai tujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki akhlak mulia, pengetahuan dan wawasan kebangsaan yang luhur; serta mempunyai tujuan khusus yaitu menyiapkan peserta didik dengan pengetahuan, kompetensi, teknologi dan seni agar menjadi manusia produktif, maupun bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia  usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi.  
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga yang menyiapkan para tenaga kerja. SMK diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang unggul, tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional pada bidangnya masing-masing. Namun sampai saat ini tujuan tersebut belum tercapai  [1]. Kurang maksimalnya pencapaian tujuan pendidikan merupakan akibat dari sistem pendidikan yang kurang memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi, bakat dan minatnya. Pakar pendidikan Doni Koesoema A mengingatkan kurikulum pembelajaran di sekolah menengah kejuruan (SMK) harus dibuat lebih fleksibel agar relevan dengan kebutuhan dan permintaan kalangan industri, karena kurikulum SMK masih terkesan kaku [2].
Agar tercapinya tujuan tersebut,  SMK harus senantiasa mengembangkan kurikulumnya. Kurikulum dalam sistem pendidikan memiliki peran sentral yang wajib diperhatikan dengan seksama karena kurikulum adalah jantungnya pendidikan. Kurikulum yang berkualitas akan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Saat ini di Indonesia menerapkan kurikulum 2013. Beberapa penelitian telah mengkaji implementasi kurikulum 2013 di SMK seperti dalam penelitianya Niam Wahzudik, dkk (2018) mengkaji bagaimana satuan pendidikan mengembangkan (menyusun) kurikulum terutama kajian keterterapan berbagai aspek landasan pengembangan kurikulum dan pendampingan kurikulum. Dalam penelitianya tidak hanya sekadar bagaimamna implementasi suatu kurikulum di sekolah tetapi bagaimana suatu kurikulum itu dikonsepkan, disusun hingga diimplemnetasikan dalam program pembelajaran di kelas.
Berikut hasil dari penelitian Niam Wazudik, dkk (2018) [3]:
Keterterapan Landasan Pengembangan Kurikulum
-  Tim pengembang kurikulum sekolah telah menggunakan kaidah pengembangan kurikulum harus  mengacu pada landasan filosofis yang secara operasional dapat dipahami dari rumusan visi, misi dan tujuan sekolah. Filsafat sebagai salah satu landasan atau fondasi kurikulum dapat berfungsi sebagai pemandu tim pengembang kurikulum sekolah dalam merancang, melaksanakan, dan mengembangkan kurikulum sekolah,
-  Selama pengembangan dan pelaksanaan kurikulum sudah mempertimbangkan aspek psikologi belajar siswa. Landasan psikologi dalam pengembangan kurikulum meliputi faktor-faktor psikologis yang harus dijadikan dasar pertimbangan dalam pengembangan kurikulum
Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum sudah mempertimbangkan aspek perkembangan siswa
-  Dalam setiap kegiatan pengembagan kurikulum  sudah menggunakan pertimbangan sosiologis, perkembangan zaman dan budaya setempat agar hasil kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan perkembangan di masyarakat.
-  Dalam pengembangan kurikulum telah menggunakan pertimbangan perkembangan Ipteks sebagai salah satu landasan pengembangan kurikulum.

Stakeholder dalam Pengembangan Kurikulum
-  Stakeholder pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu stakeholder internal dan stakeholder eksternal. Contoh dari stakeholder  internal yaitu guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Sedangkan contoh stakeholder eksternal pendidikan yaitu orangtua siswa, masyarakat umum, dunia usaha dan industry (DUDI), dan tokoh masyarakat.
-     Proses pengembangan kurikulum selain melibatkan warga sekolah (guru, tendik, dan  siswa) juga memerlukan partisipasi komite sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran komite sekolah untuk memberikan kontribusi kepada sekolah dalam mengembangkan kurikulum dapat dikatakan baik.
-  Selain melibatkan warga sekolah dan komite sekolah, proses pengembangan kurikulum memerlukan dukungan keterlibatan dari stakeholder yang berkepentingan dalam pendidikan, misalnya orang tua, dunia usaha dan dunia industri, birokrasi atas sekolah dan lain sebagainya.

Proses Pendampingan Kurikulum
- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 105 Tahun 2014 tentang Pendampingan Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah menyebutkan bahwa Pendampingan adalah proses pemberian bantuan penguatan pelaksanaan Kurikulum 2013 pada satuan pendidikan. Artinya bahwa dalam rangka sekolah melaksanakan kurikulum 2013 di satuan pendidikan mendapatkan semacam bantuan agar pelaksanaan dari kurikulum yang berjalan dapat terlaksana dengan baik.
-  Merujuk pada Permendikbud di atas kegiatan pendampingan kurikulum dibedakan menjadi Dua model, yaitu (1)  model pendampingan di induk kluster/gugus satuan pendidikan dan (2) Model pendampingan di satuan pendidikan. Model kluster dimaksudkan sebagai model pendampingan yang dilakukan oleh guru pendamping yang ada dalam satu induk kluster/ gugus, sedangkan model pendampingan di satuan pendidikan dilakukan oleh guru pendamping yang ada di satuan pendidikan tertentu.
-   Dari hasil penelitian,  kegiatan pendampingan kurikulum masih terdapat kelemahan yang artinya  membutuhkan perbaikan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya kualitas guru pendamping atau kualitas dari  sekolah atau guru yang mengikuti pendampingan.
- Sekolah membutuhkan alternative cara bagaimana untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum di masing-masing satuan pendidikan, misalnya pengadaan ahli kurikulum di setiap satuan pendidikan.
-  Kebutuhan pelatihan bagi tim pengembang kurikulum sekolah sangat diperlukan, karena pada umumnya yang menjadi tim pengembang kurikulum sekolah adalah kepala sekolah dan guru yang belum tentu secara keilmuwan atau kompetensi berlatar belakang sebagai ahli kurikulum, sehingga aktivitas pengembangan kurikulum lebih bersifat administratif saja

Kendala Penyusunan Kurikulum
-     keterlibatan stakeholder belum maksimal.
-     kualitas sumber daya manusia (SDM)
-     keterbatasan pendampingan kurikulum dari pemerintah.

  
Sumber Referensi:
[3] N. Wahzudik, H. T. Budisantoso, and B. Sulistio, “Kendala dan Rekomendasi Perbaikan Pengembangan Kurikulum di Sekolah Menengah Kejuruan,” Indones. J. Curric. Educ. Technol. Stud., vol. 6, no. 2, pp. 87–97, 2018.

Comments

Popular posts from this blog

KURIKULUM MATEMATIKA INDONESIA: SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

MATEMATIKA 'ANAK' DAN MATEMATIKA 'ORANG DEWASA'

Contoh Integrasi Materi Matematika dan Materi Program Keahlian di SMK