PENGEMBANGAN KURIKULUM MATEMATIKA SMK (Sebuah Pandangan untuk Perbaikan)

PENDAHULUAN
Mutu lulusan dipengaruhi oleh mutu kegiatan belajar mengajar, sedangkan mutu kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh berbagai factor, antara lain input peserta didik, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana, prasarana, dana, manajemen dan lingkungan, yang saling terkait satu sama lain yang merupakan sub sistem dalam sistem pembelajaran. Apabila mutu lulusannya baik, dapat diprediksi bahwa mutu kegiatan belajar mengajarnya juga baik, input siswa, kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan dana, manajemen dan lingkungannya  memadai. Akan tetapi dari berbagai faktor tersebut, kurikulum mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh proses pendidikan. Artinya kurikulum merupakan ciri utama pendidikan di sekolah. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan.
Setiap praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, apakah berkenan dengan penugasan pengetahuan, ketrampilan dan sikap tertentu, ataupun kemampuan bekerja. Untuk menyampaikan bahan pelajaran, ataupun mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan metode penyampaian, serta alat-alat tertentu. Untuk nenilai hasil dan proses pendidikan, juga diperlukan cara-cara dan alat-alat terterntu pula. Hal-hal tersebut, yaitu tujuan, bahan ajar, metode-alat dan penilaian merupakan komponen-komponen utama kurikulum. Dengan berpedoman pada kurikulum, interaksi pendidikan antara guru dan peserta didik berlangsung lebih terarah.
Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup dan urutan isi, serta proses pendidikan. Hal tersebut ditegaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 angka (19)  yang  menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Pengembangan kurikulum perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satu yang perlu dikembangkan adalah kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan yang mendapatka tugas berat dalam menghasilkan lulusannnya sebagai calon tenaga kerja terampil kompeten dan mampu beradaptasi dengan perkembangan IPTEK. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 15 yang menyebutkan bahwa SMK merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. SMK terdiri dari berbagai macam bidang keahlian sesuai dengan bidang keahlian yang ada di dunia kerja. Semua bidang keahlian di SMK memiliki tujuan mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis kompetensi harus menganut menganut prinsip pembelajaran tuntas untuk penguasaan dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga siswa dapat bekerja sesuai dengan kompetensi profesi yang dituntut oleh dunia kerja (Wijanarka, 2014). Agar siswa bisa belajar  secara tuntas, kurikulum SMK menggunakan prinsip learning by doing dan individualized learning. Learning by doing dapat menjadikan pembelajaran bermakna dan dapat dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis produksi. Individualized learning memungkinkan siswa belajar dengan kecepatan masing-masing dengan pembelajaran sistem modular (Rasto, 2016). Kedua prinsip tersebut sesuai dengan filsafat konstruktivistik bahwa pengetahuan siswa dibangun secara aktif, individual, dan personal, dan didasarkan pada pengetahuan yang sudah ada.
Kurikulum SMK dikelompokan dan di organisasikan menjadi program normatif, adaptif, dan produktif. Hubungan ketiga bagian tersebut, dapat digambarkan bahwa, Inti (core) struktur kurikulum SMK terletak pada program produktif, kemudian program adaptif dan normative mengitari di sekeliling core untuk memberikan dukungan dan penyesuaian (Purwana, 2012). Isi kurikulum perlu dirancang dengan tujuan memberikan pengalaman belajar kepada siswa untuk dapat mengembangkan seluruh potensinya secara tuntas melalui proses pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.
Upaya untuk menghasilkan lulusan pendidikan kejuruan dalam hal ini SMK yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja, perlu didukung dengan kurikulum yang dirancang dan dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan dunia kerja. Banyaknya kritikan terhadap mutu lulusan SMK menandakan strategisnya posisi kurikulum agar relevan dengan dunia kerja. Oleh karena itu perlu adanya pengembangan kurikulum, dimana setiap mata pelajaran yang diajarkan bisa mendukung kebutuhan siswa tersebut, tak terkecuali dengan matematika. Mata pelajaran matematika masuk pada program adaptif, dimana program adaptif diberikan agar siswa tidak hanya memahami dan menguasai ‘apa’ dan ‘bagaimana’ suatu pekerjaan dilakukan, tetapi memberi juga pemahaman dan penguasaan tentang ‘mengapa’ hal tersebut harus dilakukan. Program adaptif terdiri dari kelompok mata pelajaran yang berlaku sama bagi semua program keahlian dan mata pelajaran yang hanya berlaku bagi program keahlian tertentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing program keahlian.
Matematika mempunyai peran penting untuk menyiapkan siswa SMK menghadapi tantangan di dunia kerja. Menurut (Effendi, 2017), matematika bukan hanya sekedar alat untuk menyelesaikan masalah tetapi harus berfungsi sebagai alat bantu visual belajar, pembentukan pola pikir yang nyata, dan menumbuhkan sikap positif bagi siswa SMK agar mampu dan mudah beradaptasi. Sifat dan kemampuan beradaptasi ini harus dimiliki oleh siswa SMK agar mereka kritis, kreatif, dan mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan jaman dan dunia kerja. 
Dalam makalah ini akan diberikan pandangan alternative untuk pengembangan kurikulum matematika di SMK yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam peningkatan kompetensi didik dan pemenuhan tuntutan di dunia kerja dan dunia industri (DU/DI).

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Landasan pengembangan kurikulum berkaitan dengan tujuan pendidikan. Terdapat beberapa landasan utama dalam pengembangan kurikulum. Menurut (Sukmadinata, 2009) landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial budaya, serta perkembangan ilmu dan teknolog. Sedangkan (Sanjaya, 2011) mengelompokan emapat landasan pengembnagan kurikulum,namun dua diantaranya digabung menjadi satu-kesatuan yaitu, landasan filosofis, psikologis dan sosiologis teknologis. Di dalam Permendikbud No 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan dijalasakan ada tiga landasan kurikulum, yaitu landasan filosofis, landasan teori dan landasan yuridis. Dalam makalah ini landasan pengembangan suati kurikulum dapat dikelompokan sebagai berikut.
Landasan Filosofis
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya. Kurikulum yang dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.
Sebagai suatu landasan fundamental, filsafat memegang peranan penting dalam proses pengembangan kurikulum, salah satunya sebagai dasar dalam menentukan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan harus memuat yang pertama yaoitu autonomy, artinya memberikan kesadaran, pengetahuan dan kemampuan kepada setiap individu dan kelompok untuk mandiri dan hidup betsama dalam kehidupan yang lebih baik. Kedua, equity, artinya pendidikan harus memberikan kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk beratisipasi dalam kebudayaan dan ekonomi. Ketiga survival, pendidikan bukan saja harus menjamin terjadinya pewarisan dan memperkaya kebudayaan dari generasi kegenrasi, melainkan juga harus meberikan pemahaman akan saling ketergantungan antar manusia.
Kurikulum pada hakikatnya berfungsi untuk mempersiapkan anggota masyarakat yang dapat mempertahankan, mengembagkan dan hidup dalam sistem nilai masyarakat. Oleh sebab itu, dalam proses pengembangan kurikulum harus mencerminkan sisten nilai masyarakat. Sistem nilai yang berlaku di Indonsia adalah Pancasila, diharapkan membentuk manusia Indonesia yang pancasilais. Dengan demikian, isi kurikulum yang disusun harus memuat dan mencerminkan nilai-nilai pancasila.
 Menurut Bloom tujuan pendidikan dapat digolongkan kedalam tiga doamin, yaitu kognitif, psikomotrik dan afektif. Domain kognitif berhubungan dengan pengembangan pengetahuan, psikomotor berhubungan dengan pengembangan ketrampilan dan afektif berhubungan dengan pengembangan sikap. Karena Indonesia  memiliki sistem niali Pancasila, mestinya ketiga domain itu dibingkai oleh kebenaran dan nilai-nilai pancasila.
Selain dipengaruhi oleh pandangan hidup suatu bangsa, tujuan pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh filsafat, maka kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah yang dianggap sesuai dengan tujuan pendidikan matematika di SMK. Keberadaan aliran-aliran filsafat lainnya dalam pengembangan kurikulum di Indonesia dapat digunakan sebagai acuan, akan tetapi hendaknya dipertimbangkan dan dikaji kesesuaiannya dengan nilai-nilai falsafah hidup bangsa Indonesia, karena apabila tidak semuanya konsep aliran filsafat dapat diadopsi dan diterapkan dalam sistem pendidikan kita.
Landasan filsafat tertentu beserta konsep-konsepnya yang meliputi konsep metafisika, epistemologi, logika dan aksiologi berimplikasi terhadap konsep-konsep pendidikan yang meliputi rumusan tujuan pendidikan, isi pendidikan, metode pendidikan, peranan pendidik dan peserta didik. Konsep metafisika berimplikasi terhadap perumusan tujuan pendidikan terutama tujuan umum pendidikan yang rumusannya ideal dan umum; konsep hakikat manusia berimplikasi khususnya terhadap peranan pendidik dan peserta didik; konsep tentang hakikat pengetahuan berimplikasi terhadap isi dan metode pendidikan; dan konsep aksiologi berimplikasi terutama terhadap perumusan tujuan umum pendidikan.
Dari beberapa aliran filsafat yang ada, yang sesuai dengan pengembangan kurikulum matematika SMK adalah pragmatisme. Filsafat pragmatisme memandang bahwa kenyataan tidaklah mungkin dan tidak perlu. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik, plural dan berubah (becoming). Manusia pragmatisme adalah hasil evolusi biologis, psikologis dan sosial. Manusi lahir tanpa dibekali oleh kemampuan bahasa, keyakinan, gagasan atau norma-norma.
Nilai baik dan buruk ditentukan secara eksperimental dalam pengalaman hidup, jika hasilnya berguna maka tingkah laku tersebut dipandang baik. Oleh arena itu tujuan pendidikan tidak ada batas akhirnya, sebab pendidikan adalah pertumbuhan sepnjang hayat, proses rekonstruksi yang berlangsung secra terus menerus. Tujuan pendidikan lebih diarahakan pada upaya untuk memperoleh pengalaman yang berguna untuk memecahkan masalah baru dalam kehidupan individu maupun sosial.
Implikasi terhadap pengemabngan isi atau bahan dalam kurikulum ialaha harus memeuat pengalamn-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Warisan-warisan sosial dan masa lalau tidak menjadi masalah, akrena fokus pendidikan menurut paham pragmatisme adalah menyiosong kehidupa yang lebih baik pada saat ini maupun di masa yang akan datang. Oleh karena itu proses pendidikan dan pembeljaran secara etodelogis harus diarahkan pada upaya pemecahan masalah, penyelidikan dan peneluan. Peran pendidik adalah memimpin dan mebimbing peerat didik untuk belajar tanbpa harus terlapau jauh mendikte para siswa (Sukirman, 2007)
(Masitoh, Setiasih, & Mariyana, n.d.) secara rinci menjelaskan filsafat pragmatisme dalam pendidikan seperti berikut
a.   Konsep-konsep Filsafat Pragmatisme
-      Metafisika (hakikat realitas): Suatu teori umum tentang  kenyataan tidak mungkin dan tidak perlu. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik. Segala sesuatu dalam alam dan kehidupan adalah berubah (becoming).
-      Humanologi (hakikat manusia): Manusia adalah hasil evolusi biologis, psikologis dan sosial. Ini berarti setiap manusia tumbuh secara berangsur-angsur mencapai kemampuan-kemampuan biologis, psikologis, dan sosial.
- Epistemologi (hakikat pengetahuan): Pengetahuan bersifat relatif dan terus berkembang. Pengetahuan yang benar adalah yang ternyata berguna bagi kehidupan. 
-      Aksiologi (hakikat nilai): Ukuran tingkah laku perorangan dan sosial ditentukan secara eksperimental dalam pengalaman-pengalaman hidup. Ini berarti tidak ada nilai yang absolut.
b.   Konsep-konsep Pendidikan
-      Tujuan pendidikan: Tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Tujuan pendidikan tidak ditentukan dari luar kegiatan pendidikan tetapi terdapat dalam setiap proses pendidikan. Dengan demikian tujuan pendidikan adalah pertumbuhan sepanjang hidup. 
-      Isi pendidikan: Isi pendidikan adalah kurikulum berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji serta minat dan kebutuhan-kebutuhan anak, dan pendidikan liberal yang menghilangkan pemisahan antara pndidikan umum dengan pendidikan praktis/vokasional.
-      Metode pendidikan: Berpikir reflektif atau metode pemecahan masalah merupakan metode utamanya, terdiri atas langkah-langkah: Penyadaran suatu masalah, observasi kondisi-kondisi yang ada, perumusan dan elaborasi tentang suatu kesimpulan, Pengetesan melalui suatu eksperimen.
-    Peranan peserta didik dan pendidik: Peserta didik adalah sebuah organisme yang rumit yang mampu tumbuh.
-      Peranan pendidik adalah mengawasi dan membimbing pengalaman belajar tanpa terlampau banyak mencampuri urusan minat dan kebutuhan peserta didik.
Pandangan yang berbeda setiap aliran filsafat dapat mempengaruhi isi dan startegi kurikulum. Dengan kata lain kurikulum yang dikembangkan dapat merupakan gabungan beberapa atau semua aliran sehingga bersifat eklektif.
Filsafat sebagai salah satu landasan atau fondasi kurikulum dapat berfungsi sebagai pemandu tim pengembang kurikulum sekolah dalam merancang, melaksanakan, dan mengembangkan kurikulum sekolah, karena jika pengembangan suatu kurikulum tanpa didasarkan pada satu atau atau beberapa aliran filsafat kurikulum tersebut akan mudah dipengaruhi oleh kepentingan pribadi atau kelompok tertentu (Sukmadinata, 2009).
Pada era sekarang ini hampir tidak ada sekolah yang hanya menganut satu aliran filsafat saja, karena kebanyakan sekolah menggabungkan empat aliran filsafat sebagai dasar pengembangan kurikulum (Ansyar, 2015). Filsafat pendidikan mana saja yang dianut oleh suatu sekolah tergantung pada karakteristik, situasi dan kondisi sekolah yang bersangkutan serta latarbelakang pendidik dan pengelola sekolah.
Landasan Yuridis
Kurikulum dikembangkan mengacu pada tujuan pendidikan nasioanal. Tujuan pendidikan nasional tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Selanjutnya dijabarkan ke dalam berbagai undang-undang, seperti undang-undang sistem pendidikan nasional dan undang-undang lainya terkait dengan pendidikan, kemudia dijabarkan ke dalam berbagai peraturan pemerintah, seperti peraturan pemerintah tentang standar Nasional Pendidikan. Peraturan pemerintah lebih lanjut dijabarkan ke dalam peraturan menteri sepeti peraturan menteri tentang standar kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Peniliaian.
Adapun Landasan Yuridis dalam pengembangan kurikulum matematika SMK adalah:
1.   Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2.   Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
3.   Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan;
4.   Peraturan Menteri Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan
5.   Permendiknas Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi, Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses, dan Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian
6.   Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 464/D.D5/Kr/2018 Tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Muatan Nasional (A), Muatan Kewilayahan (B), Dasar Bidang Keahlian (C1),  Dasar Program Keahlian (C2) Dan Kompetensi Keahlian (C3)

Landasan Psikologis
Pendidikan senantiasa berkaitan dengan perilaku manusia.  Dalam setiap proses pendidikan terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, baik lingkungan yang bersifat fisik maupun lingkungan sosial. Melalui pendidikan diharapkan adanya perubahan perilaku peserta didik menuju kedewasaan, baik dewasa dari segi fisik, mental, emosional, moral, intelektual, maupun sosial. Harus diingat bahwa walaupun pendidikan dan pembelajaran adalah upaya untuk mengubah perilaku manusia, akan tetapi tidak semua perubahan perilaku manusia/peserta didik mutlak sebagai akibat dari intervensi program pendidikan. 
Perubahan perilaku peserta didik dipengaruhi oleh factor kematangan dan faktor dari luar program pendidikan atau lingkungan. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan/program pendidikan, sudah pasti berhubungan dengan proses perubahan perilaku peserta didik. Kurikulum diharapkan dapat menjadi alat untuk mengembangkan kemampuan potensial menjadi kemampuan aktual peserta didik serta kemampuan-kemampuan baru yang dimiliki dalam waktu yang relatif lama.
Pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh asumsi asumsi yang berasal dari psikologi yang meliputi kajian tentang apa dan bagaimana perkembangan peserta didik, serta bagaimana peserta didik belajar. Atas dasar itu terdapat dua cabang psikologi yang sangat penting diperhatikan dalam pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Pemahaman tentang peserta didik sangat penting dalam pengembangan kurikulum. Melalui kajian tentang perkembangan peserta didik, diharapkan upaya pendidikan yang dilakukan sesuai dengan karakteristik peserta didik, baik penyesuaian dari segi kemampuan yang harus dicapai, materi atau bahan yang harus disampaikan, proses penyampaian atau pembelajarannya, dan penyesuaian dari segi evaluasi pembelajaran.
Perkembangan Peserta Didik dan Kurikulum
Setiap individu dalam hidupnya melalui fase-fase perkembangan. Mengenai penentuan fase-fase perkembangan tersebut para ahli mempunyai pendapat yang berlainan. Elizabeth Hurlock dalam (Masitoh et al., n.d.) mengemukakan penahapan perkembangan individu yang meliputi:
Tahap I : fase prenatal (sebelum lahir yaitu masa konsepsi sampai 9 bulan);
Tahap II : infancy (orok, yaitu lahir sampai 10-14 hari);
Tahap III : childhood (kanak-kanak, yaitu 2 tahun sampai remaja),
Tahap IV : adolescence/puberty yaitu 11-13 tahun sampai usia 21 tahun).
Rousseau dalam (Masitoh et al., n.d.) mengemukakan tahapan perkembangan sebagai berikut:
Tahap I : 0,0 – 2,0 tahun, usia pengasuhan
Tahap II : 2,0 – 12,0 masa pendidikan jasmani dan latihan pancaindera
Tahap III : 12,0 – 15,0 periode pendidikan akal
Tahap IV : 15- 20,0 periode pendidikan watak dan pendidikan agama.
 Dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar (pendidikan), (Yusuf, 2005), menegaskan bahwa penahapan perkembangan yang digunakan sebaiknya bersifat elektif, artinya tidak terpaku pada suatu pendapat saja tetapi bersifat luas untuk meramu dari berbagai pendapat yang mempunyai hubungan yang erat. Atas dasar itu perkembangan individu sejak lahir sampai masa kematangan dapat digambarkan melewati fase-fase berikut:
Tabel 1. Fase-Fase Perkembangan Individu
Tahap Perkembangan
Usia
Masa Usia Prasekolah
0 – 6 tahun
Masa usia sekolah dasar
6 – 12 tahun
Masa usia sekolah menengah
12 – 18 tahun
Masa usia mahasiswa
18 – 25 tahun

Setiap tahap perkembangan memiliki karakteristik tersendiri, karena ada dimensi-dimensi perkembangan tertentu yang lebih dominan dibandingkan dengan tahap perkembangan lainnya. Jika dilihat dari table tersebut siswa SMK berada pada tahap perekembangan usia sekolah menengah.  
Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya
yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa.  Pemahaman tentang perkembangan peserta didik sebagaimana diuraikan di atas berimplikasi terhadap
pengembangan kurikulum, antara lain:
-       Setiap peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk  berkembang sesuai dengan bakat, minat, dan kebutuhannya.
-       Di samping disediakan pelajaran yang sifatnya umum (program  inti) yang wajib dipelajari setiap anak di sekolah, juga perlu disediakan pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat anak.
-       Lembaga pendidikan hendaknya menyediakan bahan ajar baik yang bersifat kejuruan maupun akademik. Bagi anak yang berbakat di bidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya.
-       Kurikulum memuat tujuan-tujuan yang mengandung aspek pengetahuan, nilai/sikap, dan keterampilan yang menggambarkan  pribadi yang utuh lahir dan batin.
Implikasi lain dari pemahaman tentang peserta didik terhadap proses pembelajaran (actual curriculum) dapat diuraikan sebagai berikut:
-       Tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara operasional  selalu berpusat kepada perubahan tingkah laku peserta didik.
-       Bahan/materi yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan,  minat, dan kebutuhan peserta didik sehingga hasilnya bermakna bagi mereka. 
-    Strategi belajar mengajar yang digunakan harus sesuai dengan tingkat  perkembangan anak.
-       Media yang dipakai senantiasa dapat menarik perhatian dan minat anak.
- Sistem evaluasi harus dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan.
Psikologi Belajar dan Pengembangan Kurikulum
Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu belajar. Pembahasan tentang psikologi belajar erat kaitannya dengan teori belajar. Pemahaman tentang teori-teori belajar berdasarkan pendekatan psikologis adalah upaya mengenali kondisi objektif terhadap individu anak yang sedang mengalami proses belajar dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan menuju kedewasaannya. Pemahaman yang luas dan komprehensif tentang berbagai teori belajar akan memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi para pengembang kurikulum baik di tingkat makro maupun tingkat mikro untuk merumuskan model kurikulum yang diharapkan. 
Pendekatan terhadap belajar berdasarkan satu teori tertentu merupakan asumsi yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaannya berkaitan dengan aspek-aspek dan akibat yang mungkin ditimbulkannya. Sedikitnya ada tiga jenis teori belajar yang berkembang dewasa ini dan memiliki pengaruh terhadap pengembangan kurikulum di Indonesia pada khususnya. Teori belajar tersebut adalah: (1) Teori psikologi kognitif (kognitivisme), (2) teori psikologi humanistic, dan (3) teori psikologi konstruktivisme.

Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Dalam belajar, kognitivisme mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar merupakan interaksi antara individu dan lingkungan, dan hal itu terjadi terus-menerus sepanjang hayatnya. Kognisi adalah suatu perabot dalam benak kita yang merupakan “pusat” penggerak berbagai kegiatan kita: mengenali lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai masalah, mencari informasi baru, menarik simpulan dan sebagainya.
Piaget menguraikan empat tahap perkembangan kognitif: sensorimotor, preoperational, concrete operational, dan formal operational. Tahapan  perkembangan kognitif menguraikan ciri khas perkembangan kognitif tiap tahap dan merupakan suatu perkembangan yang saling berkaitan dan berkesinambungan. 
Berdasarkan tahapan perkembangan kognitif yang dikemukakan Piaget, kita dapat menyimpulkan bahwa cara  berpikir  anak prasekolah berbeda dengan anak usia SD, demikian pula cara berpikir anak SD berbeda dengan cara berpikir anak SMP/SMA. Karena itu teori perkembangan kognitif Piaget mengimplikasikan bahwa proses belajar mengajar harus memperhatikan tahap perkembangan kognisi anak. Ini berarti bahwa guru mempunyai peranan penting untuk menyesuaikan keluasan dan kedalaman program belajar, menggunakan strategi pembelajaran, memilih media dan sumber belajar dengan tingkat perkembangan kognisi anak.  Berdasarkan teori perkembangan kognitif dari Piaget, guru mempunyai peranan dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
-       Merancang program, menata lingkungan yang kondusif, memilih  materi pelajaran, dan mengendalikan aktivitas murid untuk melakukan inkuiri dan interaksi dengan lingkungan.
-       Mendiagnosa tahap perkembangan murid, menyajikan permasalahan kepada murid yang sejajar dengan tingkat perkembangannya.
-       Mendorong perkembangan murid kea rah perkembangan berikutnya dengan cara memberikan latihan, bertanya dan mendorong murid untuk melakukan eksplorasi

MATEMATIKA DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Secara umum SMK harus merespon dua hal yang berlawanan. Pertama, SMK harus inovatif progresif yang mengembangkan konten, sikap kerja, ketrampilan komunikasi, serta
pengetahuan matematika dan sain. Kedua, bahwa SMK didikte oleh ekonomi rasionalis yang menyeleksi (sorting dan ranking) siswa sebagai pekerja produkti Mc Neil dalam (Effendi, 2017). Tujuan dari pendidikan kejuruan adalah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki stamina yang tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri. (Permendiknas Nomor 22  Tahun 2006).
Mata pelajaran kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran wajib di sekolah kejuruan. Mata pelajaran ini memiliki tujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja. Berdasarkan pada Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006, sesuai dengan jenis-jenis kelompok keahlian pada SMK, maka kurikulum matematika yang diajarkan pun menyesuaikan dengan kelompok keahliannya, yaitu, 1) ada materi matematika kelompok seni, pariwisata, dan teknologi kerumahtanggaan; 2) matematika kelompok sosial, administrasi, perkantoran dan akuntansi; 3) matematika kelompok teknologi, kesehatan, dan pertanian.
Dengan adanya pengelompokan tersebut artinya peranan mata pelajaran matematika  sangat penting bagi semua keahlian di kejuruan. Menurut (Effendi, 2017), meskipun diberikan di semua kelompok, tujuan pembelajaran matematika mempunyai tujuan akhir yang sama yaitu mengajarkan bagaimana agar siswa mampu beradaptasi dan sanggup menghadapi perubahan yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran rasional, cermat, kritis, dan kreatif Melalui pembelajaran matematika akan terbentuk pola pikir matematis, sehingga siswa SMK diharapkan mudah mempelajari ilmu lain, memaknai kehidupan sehari-hari secara benar, dan sukses dalam bidang pekerjaannya.
Matematika bukan lagi pelajaran yang harus dipelajarai secara tertutup oleh seorang
individu, sehingga murid ini terisolasi dari masyarakat belajar di kelas itu. Matematika perlu dipelajari serorang individu yang pengetahuan dan ketrampilan matematika ini dikontrol dan juga diketahui oleh murid lainnya. Di sinilah teori Social Constructivism mengayomi pembelajaran matematika seperti ini (Turmudi, n.d.). Matematika di SMK  juga bukan hanya sekedar mempelajari angka atau bilangan, tidak hanya sebagai alat, bahasa, dan  ilmu pengetahuan, tetapi yang tak kalah penting adalah sebagai pembentukan pola piker untuk kesiapan siswa bekerja.
Oleh karena itu perlu adanya pembelajaran matematika yang dapat untuk memfasilitasi tujuan tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar isi matematika harus disesuaikan agar tujuan tersebut tercapai. Standar isi matematika dapat diartikan sebagai deskripsi dari materi matematika apa yang harus diajarkan dan bagaimana memperolehnya (Effendi, 2017). Standar matematika merupakan kreteria minimal tentang materi matematika yang harus dikuasai oleh siswa SMK yang diberlakukan di program keahlian tertentu. Standar diperlukan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir dan penalaran matematis yang digunakan sebagai dasar pengetahuan keterampilan matematika. Standar matematika yang ditetapkan dan disajikan harus menggambarkan keterhubungan antara pemahaman matematika dengan kompetensi yang diiinginkan baik kompetensi matematika maupun kompetensi program keahliannya. Oleh karenanya standar isi ini harus menyeluruh dan terintegrasi.
Pada Kurikulum 2013, standar  isi matematika SMK sudah ditetapkan dengan model top down. Model ini menganut paham keseragaman dan keharusan bukan keberagaman dan kebutuhan. Dalam banyak kasus model ini sulit terimplementasi dengan baik di lapangan khususnya di SMK (Effendi, 2014).  SMK memerlukan kurikulum matematika yang sesuai dengan kebutuhan program keahliannya. Untuk itu, pengembangan kurikulum di SMK harus terintegrasi antara materi dengan kebutuhan dunia kerja.

MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM MATEMATIKA
Terdapat beberpa model pengebangan kurikulum. Setiap model memiliki kekhasan masing-masing, seperti dari segi tahapan, pendekatan, maupun ruang lingkupnya. Dalam  pengembangan kurikulum matematika SMK ini menggunakan model Hilda Taba. Model Taba menenkankan bagaimana melakukan perbaikan dan penyempurnaan kurikulum yang sedang berjalan. Model ini dikembangkan atas dasar data induktif yang disebut model terbalik karena langkah-langkahnya diawali dengan pencarian data dari lapangan dengan cara mengadakan percobaan, kemudian disusun teorinya lalu diadakan pelaksanaan.
Langkah-langkahnya sebagai berikut Taba dalam (Widyastono, 2014).
1.   Menghasilkan unit eksperimen melalui langkah-langkah:
a.  Mendiagnosis kebutuhan, dengan cara mengindentifikasi kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada
b.     merumuskan tujuan, berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang telah didiagnosis
c.    memilih isi, sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan, dengan mempertimbangkan segi validitas dan kebermaknaan bagi peserta didik.
d.  Mengelola isi, dengan cara menyeleksi isi, kemudian menyusun urutannya, sesuai dengan urutan keilmuan dan tahap perkembangan anak
e.     Memilih pengalaman belajar, untuk mencapai tujuan yang diinginkan
f.    Mengelola pengalamn belajar, dengan mengemas pengalaman-pengalaman belajar yang telah ditentukan ke dalam program-program kegiatan
g.   Menentukan alat  evalusi serta prosedur yang harus dilakukan peserta didik, untuk mengukur apakah peserta didik sudah dapat mencapai tujuan yang dirumuskan atau belum
h.  Menguji keseimbangan isi kurikulum, untuk melihat kesesuaian antara isi, pengalaman belajar dan tipe-tipe belajar peserta didik.
2.   Menguji coba unit eksperimen untuk memeproleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaanya
3.   Merevisi dan mengonsolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yag diperoleh dalam ujicoba
4.   Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum
5.   Mengiplementasi dan desiminasi kurikulum yangtelah teruji. Pada tahap terakir ini perlu dipersiapkan guru-guru melalui pelatihan -pelatihan dan sejenisnya, serta mempersiapkan fasilitas sarana prasarana sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Dalam Permendikbud No 70 Tahun 2013, secara umum kurikulum di SMK dapat dibedakan menjadi mata pelajaran wajib dan program keahlian. Berdasarkan muatan isi dan kajiannya dapat dikelompokkan manjadi 5 kelompok besar yaitu: program keahlian, Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa. Pengembangan kurikulum SMK dapat dilakukan melalui pengorganisasian SKL termasuk di dalamnya KD, indikator, dan standar isi, dimana SKL pelajaran wajib harus menopang dan terintegrasi dengan SKL program keahlian. Empat pelajaran wajib yaitu Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa hendaknya saling berkorelasi dan menjadi dasar kekuatan untuk menopang tercapainya SKL program keahlian. Pengikat SKL pelajaran wajib tersebut pada setiap jenjang kelasnya (1, 2, dan 3) adalah SKL program keahlian pada masing-masing jenjang kelas yang bersangkutan. Dari uraian tersebut maka hubungan antar pelajaran wajib dengan program keahliannya membentuk piramida (Effendi, 2017)

                                  Gambar 1. Model Piramida Terintegrasi (Effendi, 2017)

Dalam gambar di atas terdapat 5 titik sudut, yaitu Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa membentuk segi-empat sebagai alas piramida, sedangkan Program Keahlian sebagai titik puncaknya. Sumbu Matematika (O - Matematika) terdiri SKL, KD, indikator, materi ajar matematika mulai kelas 1 sampai 3 yang dibutuhkan siswa SMK untuk menguasai SKL program keahlian. SKL, KD, indikator, materi ajar matematika ini tidak boleh overlap dan overload, oleh karena itu harus diurutkan berdasarkan hirarki matematika dan urutan kebutuhan SKL program keahlian, dan didistribusikan dalam semester serta ditentukan kebutuhan alokasi jam pelajarannya. Penentuan jumlah jam pelajaran yang dibutuhkan SKL
matematika tersebut tentu harus berdasarkan alokasi jam efektif, banyaknya materi yang harus diajarkan, dan tingkat kesulitan materi ajar. Demikian juga dengan IPA, IPS, dan Bahasa. Hubungan antara pelajaran matematika dengan program keahlian ditunjukkan oleh bidang segitiga (O-Matematika-Program Keahlian). Proses penentuan materi yang dibutuhkan siswa SMK terhadap IPA, IPS, dan Bahasa adalah  sama dengan cara penentuan materi ajar matematika di atas. Sehingga hubungan IPA, IPS, dan Bahasa terhadap program keahlian  masing-masing juga ditunjukkan oleh bidangbidang segitiga.
Hubungan antara matematika, IPA, IPS, dan Bahasa merupakan hubungan korelasi atau bisa juga separasi tergantung dari materi ajarnya. Hubungan keempat mata pelajaran wajib ini ditunjukkan oleh bidang segi-empat (alas piramida) yaitu Matematika-Bahasa-IPA-IPS. Bidang segiempat ini menunjukkan banyaknya materi/KD yang dibutuhkan SKL program keahlian selama proses pendidikan. Sedangkan volume piramida yang dibentuk oleh kelima kelompok mata pelajaran tersebut merupakan beban belajar siswa SMK untuk menguasai dan SKL program keahlian yang dipilihnya.  

PERENCANAAN PENGEMBANGAN KURIKULUM MATEMATIKA SMK
Kegiatan utama pengembangan kurikulum terintegrasi Model Piramida adalah melakukan identifikasi tujuan, menentukan SKL, KD, dan SI program keahlian dan urutannya. Sedangkan kegiatan pengembangan kurikulum matematika SMK adalah melakukan identifikasi tujuan dan SKL matematika sesuai dengan kebutuhan program keahlian. Pengembangan SKL matematika menjadi KD, SI, dan SP harus mempertimbangkan muatan kurikulum nasional, kisi-kisi UN, dan referensi yang relevan. SKL, KD, dan SI diurutkan berdasarkan hirarki matematika serta berdasarkan urutan SKL, SI,  dan KD program keahlian. Setelah proses pengurutan dan menentukan cakupan SKL, KD, an SI matematika, maka proses berikutnya adalah menentukan alokasi dan sebaran jumlah jam matematika ke dalam semester. Secara umum prosedur pengembangan bahan ajar matematika SMK dapat digambarkan sebagai berikut Effendi (2017).




Gambar 2. Tahapan Pengembangan Kurikulum Matematika SMK

Untuk memperoleh SI matematika yang menopang SKL keahlian, maka harus melakukan analisis SKL, KD, dan SI matematika yang dibutuhkan dan sumber belajar yang digunakan. Oleh karena itu, tahapan pengembangan SI dapat dikelompokan menjadi empat kegiatan, yaitu analisis terhadap kebutuhan SKL, melakukan pemetaan, menentukan desain dan struktur pengembangan SI, serta merealisasikannya yaitu berupa rancangan pembelajaran. Berikut penjelasan tahapan pengembangan kurikulum matematika SMK.
Tahap 1. Orientasi
Tujuan tahapan awal ini adalah menentukan profil lulusan SMK Program Keahlian (disesuiakan dengan program keahlian, misal teknologi, seni, perkantoran atau tata busana dsb). Proses ini bisa dilakukan melalui FGD untuk menentukan komitmen bersama tentang profil yang diinginkan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan profil ini, yaitu kurikulum nasional, DuDi, Matematika untuk SMK, UN Matematika, kurikulum riil, SWOT sekolah, kebijakan dan peraturan yang berlaku, dan sejenisnya.
Tahap 2. Pengembangan
Analisis Kebutuhan
Tahap kedua melakukan analisis kebutuhan Program Keahlian terhadap SKL Matematika. Setelah profil lulusan program keahlian ditetapkan termasuk di dalamnya SKL, KD, indikator, SI, cakupan, dan urutannya, maka berikutnya adalah menentukan SKL Matematika yang dibutukan. Proses ini lebih efisien dan efektif jika menggunakan FGD
Menentukan Standar Isi Matematika
Pada tahap ini menentukan standar isi matematika, ruang lingkup, dan urutannya. Berdasarkan SKL Matematika yang telah dirumuskan maka harus ditentukan standar isi (materi ajar), ruang lingkup, dan urutannya. Tujuannya adalah agar tidak terjadi overload dan overlap materi ajar dalam pelaksanaan pembelajarannya. Urutan penyampaian materi harus mempertimbangkan urutan SKL program keahlian, hirarki matematika, dan SKL pelajaran lain yang terkait dan membutuhkan matematika.
Sinkronisasi SKL dan jumlah Pelajaran
Tahap keempat adalah tahap sinkronisasi SKL dan jumlah jam pelajaran Matematika. Setelah menghasilkan SKL program keahlian dan urutannya maka selanjutnya adalah mengidentifikasi ulang  SKL matematika yang dibutuhkan termasuk dengan pelajaran lain yang terkait dengan matematika. Harus disadari bahwa langsung atau tidak langsung ada pelajaran lain yang membutuhkan matematika, baik itu matematika sebagai alat, pembentuk pola pikir atau bahkan pembentuk karakter. Selain itu jumlah jam pelajarannya disesuaikan dengan jumlah jam pelajaran minimal yang disarankan dalam kurikulum nasional.
Menyusun Rencana Kurikulum
Penyusunan rencana ini mencakup penyusunan silabus, RPP, pengembangan bahan pelajaran dan sumber-sumber material lainnya.
Uji coba
Draf Kurikulum yang telah dihasilkan kemudian di ujicobakan di lapangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keandalannya, kemungkinan pelaksanaan dan keberhasilannya, hambatan dan masalah-masalah yang timbul dan faktor-faktor pendukung yang tersedia, dan lain-lain yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum.
Tahap 3: Implementasi
Ada 2 kegiatan yang perlu dilakukan, ialah 1) Kegiatan desiminasi, yakni pelaksanaan kurikulum dalam lingkup sampel yang lebih luas; 2) Pelaksanaan kurikulum secara menyeluruh yang mencakup semua satuan pendidikan pada jenjang yang sama. Selama pelaksanaan kurikulum perlu dilakukan penialaian dan pemantauan yang berkenaan dengan desain kurikulum dan hasil pelaksanaan kurikulum serta dampaknya.
Berdasarkan penilaian dan pemantauan kurikulum diperoleh data dan informasi yang akurat, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan perbaikan pada kurikulum tersebut bila diperlukan, atau melakukan penyesuaian kurikulum dengan keadaan. Perbaikan dilakukan terhadap beberapa aspek dalam kurikulum tersebut. 

PENUTUP
Redesain kurikulum matematika SMK harus sering dilakukan karena perlu disesuiakan dengan tuntutan kompetensi di dunia kerja dan dunia industri (DU/DI). Karena orientasi siswa SMK adalah setelah lulus mereka akan bekerja. Oleh karena itu, untuk melihat apakah kurikulum dan implementasinya saat ini sudah sesuai dengan tuntutan tersebut maka perlu adanya analisis awal terhadap pembelajaran matematika di SMK, sehingga tidak ada overload dan overlap materi ajar dan sesuia dengan tujuan SMK. Salah satu caranya adalah mengembalikan tujuan dan fungsi pembelajaran matematika di SMK, melalui pengembangan kurikulum Model Piramida. Pengembangan kurikulum Model Piramida mendasarkan diri pada tujuan dan fungsi matematika di SMK serta terintegrasi dengan tujuan program keahliannya. Pembelajaran problem solving dan belajar bermakna merupakan salah satu pilihan dalam implementasi dilapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Ansyar, M. (2015). Kurikulum Hakikat, Fondasi, Desain & Pengembangan. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Effendi, M. M. (2014). Alternatif Model Organisasi Kurikulum Matematika SMK. Jurnal HIPKIN: Inovasi Kurikulum, 1, 123–125.
Effendi, M. M. (2017). Reposisi Pembelajaran Matematika di SMK. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika 2017 Di Universitas Muhammadiyah Malang, 1–11. Retrieved from http://eprints.umm.ac.id/36850/
Masitoh, Setiasih, O., & Mariyana, R. (n.d.). Landasan Pengembangan Kurikulum. Retrieved from http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEDAGOGIK/196007071986012-OCIH_SETIASIH/Hand_Ot_LANDASAN_PENGKUR_REVISI.pdf
Purwana, B. H. (2012). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kejuruan Dengan Model Sistemik. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Teknik Mesin, 1–11. Yogyakarta: Fakultas Teknik UNY.
Rasto. (2016). Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan. Retrieved from http://rasto.staf.upi.edu/2016/03/07/kurikulum-sekolah-menengah-kejuruan/
Sanjaya, W. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sukirman, D. (2007). Landasan Pengembangan Kurikulum. Retrieved from http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196209061986011-AHMAD_MULYADIPRANA/PDF/Landasan_Kurikulum.pdf
Sukmadinata, N. S. (2009). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Turmudi. (n.d.). Landasan Filosofis, Didaktis, dan Pedagogis Pembelajaran Matematika untuk Siswa Sekolah Dasar. Retrieved from http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/196101121987031-TURMUDI/F19-Modul--DEPAG.pdf
Widyastono, H. (2014). Pengembangan Kurikulum di Era Otonomi Daerah Dari Kurikulum 2004, 2006 ke Kurikulum 2013. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Wijanarka, B. S. (2014). Kebijakan Pemerintah Mengenai Pengembangan SMK dan SMK yang Ideal. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/131879365/penelitian/PaperB_Sentot_Seminar_SMKLUSTRUMLeonardo.pdf
Yusuf, S. (2005). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Permendikbud No 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan
Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
https://oerl.sri.com/instruments/cd/instrCD.html



Lampiran
Berikut beberapa contoh instrument untuk pengembangan kurikulum matetika SMK memperoleh informasi awal terkait dengan pembelajaran matematika di SMK.


1. Pedoman Wawancara Guru / Sekolah
Tujuan: Untuk menilai pengalaman guru mengajar
Diberikan kepada: guru matematika SMK
Topik yang dibahas:
-       Sikap & Keyakinan (Guru / sekolah)
-       Evaluasi Pembelajaran
-       Dampak pada Hasil: praktik pengajaran, sikap siswa, pemahaman siswa, minat guru, keterampilan guru
-       Rencana Pelajaran / Kurikulum: integrasi, metode, tujuan
-       Keterbatasan & Hambatan: implementasi
-       Persepsi (Guru / sekolah): implementasi, sikap siswa, dampak siswa
-       Rencana & Harapan (Guru / Sekolah): dampak proyek, implementasi proyek
-       Penilaian Mandiri (Guru / sekolah): pengetahuan konten, minat
-       Karakteristik & Kegiatan Latar Belakang (Guru / Sekolah): pendidikan, pengalaman, praktik sebelumnya, tujuan untuk berpartisipasi

Pedoman Wawancara Guru
Pra-Pembelajaran

Pertama, saya ingin mengetahui tentang pengalaman mengajar Anda.
1.   Sudah berapa lama Anda mengajar?
2.   Berapa banyak waktu yang dihabiskan di sekolah?
3.  Saya ingin mengetahui tentang mengapa Anda memutuskan untuk mengajar matematika.
4.   Apakah anda memutuskan sendiri untuk mengajar matematika di SMK?
5.   Bagaimana pengalaman anda selama mengajar matematika di SMK
6.   Bagaimana Anda menggambarkan minat dan kemampuan Anda selama mengajar matematika di SMK?
7.   Apa yang Anda harapkan paling bermanfaat dalam mengajar matematika di SMK?

Pedoman Wawancara Guru
Pasca Pembelajaran

1.   Bagaimana Anda menggambarkan metode pembelajaran Anda pada kurikulum saat ini?
-  Bagaimana perencanaan mata kuliah tercapai? Mengapa Anda memutuskan untuk melakukannya dengan cara tersebut?
-  Bagaimana tanggung jawab kelas diatur? Mengapa Anda memilih untuk melakukannya dengan cara tersebut?
-  Apakah Anda mendiskusikan masalah pedagogis secara langsung dalam sesi perencanaan Anda dengan guru matematika lainnya? Jika demikian, masalah apa yang Anda diskusikan?
-  Bagaimana anda melakukan penilaian siswa? Mengapa Anda memilih cara tersebut?
2.   Apakah hubungan ini berubah selama pembelajaran berlangsung?
Jika demikian, apakah Anda secara aktif memutuskan untuk mengubah sesuatu atau mereka hanya berubah?
3.   Bagaimana perasaan Anda, dalam retrospeksi, tentang cara menyusun pembelajaran ini?
4.   Apakah mengintegrasikan konten dari matematika dan dunia kerja menimbulkan tantangan dalam perencanaan?
5.   Bagaimana respons siswa terhadap pembelajaran yang anda lakukan?.
6.   Apakah ada kepuasan dengan pebelajaran yang anda lakukan? Apakah ada rasa frustrasi?
7.   Apa saran yang akan Anda berikan kepada guru pemula untuk membantu mereka mendapatkan hasil maksimal dari pengalaman mengajar matematika di SMK?
8.   Dalam situasi apa Anda merasakan pembelajaran yang anda lakukan paling mungkin berhasil?
9.   Apakah ada hal lain yang ingin Anda ceritakan tentang pengalaman Anda terkait pembelajaran yang belum saya tanyakan?


 2. Pedoman Wawancara Akhir Semester

Tujuan: Untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang dipelajari masing-masing guru dari proyek dan metode pengajaran serta alat penilaian yang digunakan guru di kelas
Diberikan kepada: Guru matematika SMK
Topik yang dibahas:
-  Evaluasi Kursus: area untuk peningkatan program
-  Kegiatan Implementasi: metode pengajaran, sumber daya
-  Persepsi (Guru / sekolah): implementasi
-  Rencana & Harapan (Guru / sekolah): implementasi

1.   Metode pengajaran apa yang baru bagi Anda, apakah Anda menggunakannya pada semester ini?
2.   Dari apa yang telah Anda pelajari pada semester ini, bagaimana Anda  mengubah pembelajaran Anda?
3.   Alat penilaian apa yang menurut Anda berhasil mendapatkan umpan balik otentik?
4.   Apa yang Anda coba saat pembelajarn yang tidak berhasil, dalam hal penilaian dan atau strategi pengajaran?
5.   Sebutkan dua strategi penilaian yang berbeda yang ingin Anda coba pada semester berikutnya dengan siswa Anda?
6.   Berdasarkan pengalaman Anda pada semester ini, jenis dukungan kurikuler apa yang dapat disediakan program yang dapat membuat perbedaan di kelas Anda.


3. Angket Penilaian Pembelajaran Oleh Siswa
Tujuan: Untuk meminta reaksi dan pendapat siswa tentang pembelajaraan matematika











































Comments

Popular posts from this blog

KURIKULUM MATEMATIKA INDONESIA: SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

MATEMATIKA 'ANAK' DAN MATEMATIKA 'ORANG DEWASA'

Contoh Integrasi Materi Matematika dan Materi Program Keahlian di SMK