MATEMATIKA 'ANAK' DAN MATEMATIKA 'ORANG DEWASA'
Dalam perkuliahan dengan Prof.
Marsigit, Beliau sering kali menggunakan kata-kata yang filosofis yang membawa
mahasiswa kepada “pertanyaan” sebenarnya apa maksud dari pernyataan tersebut. Dunia
matematika menurut beliau ada dua bagian yang terpisah bagaikan bumi dan
langit. Dilangit penghuninya para dewa dan di bumi penghuninya para daksa. Makna
dari kalimat tersebut adalah langit itu matematikanya para dewa berisi tentang
ilmu, konsep, pikiran, logika, ide, gagasan. Dewa yang dimaksud disini adalah guru/pendidik.
Istilah lainya adalah matematika formal atau matematikanya orang dewasa. Sedangkan
bumi itu matematikanya anak atau siswa (matematika sekolah) yang berisi realita/kenyataan, pengalaman,
sesutu yang fisik, kongkrit, sintetik. Dalam
artikel ini akan dibahas hasil perkuliahan dengan Prof. Marsigit tentang
matematika anak dan matematika orang dewasa.
Prof. Marsigit menggambarkan bahwa
dunia anak itu penuh dengan realita, pengalaman, sesuatu yang fisik dan kongkrit,
sehingga matematika itu merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh
anak/siswa. Aktivitas menurut Prof. Marsigit dapat dianalisis menurut sudut
pandang kepentingan menggunakan indicator ruang dan waktu. Ruang hanya dapat
dipahami menggunakan waktu. Waktu hanya dapat dipahami menggunakan ruang. Kepentingan
yang dimaksud adalah suatu ruang yang akan diletakan atau dijatuhkan pada ruang
yang lain. Di dalam dunia anak tidak ada yang pasti, semua akan berubah menurut
ruang dan waktu. Misalkan l ≠ l , karena yang sebelah kiri lebih panjang dari pada yang
sebelah kanan. Begitu juga dengan A ≠ A , bagi anak-anak bisa di anggap
beda karena yang sebelah kiri lebih kecil dari pada yang sebelah kanan. Perbedaan
itu adalah pengetahuan atau ilmu realitas yang bersifat sintetik, a posteriori
dan kontradiktif. Sintetik adalah interaksi antar simensi ruang. A posteriori
paham setelah mengalami. Jadi anak harus mengetahui dan mengalami dunia luar
agar memahami pengetahuan.
Di dalam dunia orang dewasa
berisi tentang konsep, ilmu, ide, pikiran, logika yang tidak terhung dalam
ruang dan waktu. Oleh karena itu matematika bersifat tetap dan absolut. Misalnya
I = I, A = A, 1 + 2 = 3, dimanapun dan
kapan pun akan sama seperti itu. Sama adalah
konsep atau idealitas yang bersifat analitik, a priori dan konsisten. Analitik adalah
perjalanan konsep yang tidak terikat waktu. A priori adalah paham walaupun
belum mengalaminya. Jadi analitik a priori lebih mengandalkan pada kemampuan
visualisasi seseorang dalam mengimajinasikan sesuatu dengan menggunakan
pendekatan logika tanpa harus merasakan atau mengalaminya terlebih dahulu,
sehingga dapat melatih kita dalam meningkatkan kemampuan kognitif dalam
memandang suatu persoalan. Misalkan “takut tidaknya dengan ular kobra”, Kita tidak perlu merasakan bagaimana rasanya
menghadapi ular kobra, kita hanya perlu memvisualisasikan apa rasanya jika kita
menghadapi ular kobra dengan pendekatan-pendekatan logika. Tetapi bagi anak-anak,
apabila belum mempunyai pengalaman dengan ular kobra, mereka belum bisa untuk
menyimpulkan rasanya ketika bertemu dengan ular kobra.
Istilah lain dari matematika anak
dan matematika orang dewasa yang dijelaskan Prof Marsigit adalah matematika anak
itu matematika sekolah sedang matematika orang dewasa itu matematika formal. Matematika
sekolah menggunakan pendekan induktif dimana kegiatanya antara lain membuat
pola, melakukan investigasi, problem solving dan komunikasi. Sedangkan matematika
formal itu ada definisi, rencana, aksima, program dengan pendekatan deduktif.
Oleh karena itu penting
sekali bagi para “Dewa” untuk bisa mengajarkan matematika sesuai dengan
dunianya anak. Guru tidak boleh memaksakan matematika formal/matematika orang dewasa ke dalam dunia matematika anak karena akan mengakibatkan rusaknya intuisi anak. Guru harus bisa membawa matematika sebagai pengalaman belajar yang
nyata bagi siswa dengan melibatkan sesuatu yang fisik dan kongkrit dengan pendekatan induktif sehingga belajar matematika
akan menjadi menyenangkan dan mudah dipelajari bagi anak/siswa.
Catatan: Sebuah refleksi perkuliahan yang ditulis tidak secara ilmiah, yang mudah-mudahan dapat dipahami dan mendapat hal positif dari tulisan ini.
Catatan: Sebuah refleksi perkuliahan yang ditulis tidak secara ilmiah, yang mudah-mudahan dapat dipahami dan mendapat hal positif dari tulisan ini.
Comments
Post a Comment