KURIKULUM MATEMATIKA INDONESIA: SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA
Indonesia memiliki sistem
pendidikan terbesar keempat di dunia dalam hal populasi siswa. Namun, studi
perbandingan internasional berskala besar seperti Programme for
International Student Assessment (PISA) secara konsisten menunjukkan bahwa
sistem pendidikan Indonesia belum berfungsi dengan baik. PISA merupakan program
tiga tahun sekali yang digagas oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation
and Development) untuk mengukur kompetensi belajar peserta didik global. Survei
PISA ini meneliti remaja 15 tahun dari negara-negara yang tergabung dengan OECD
untuk mengukur kemampuan belajar lewat serangkaian tes dan menurut data yang
diterbitkan OECD dari periode survei 2009-2018, Indonesia konsisten berada di
urutan 10 terbawah. Dari ketiga kategori kompetensi, skor Indonesia selalu
berada di bawah rata-rata. Hasil survei PISA 2018 menunjukan kategori kemampuan
membaca, sains, dan matematika, skor Indonesia tergolong rendah karena berada
di urutan ke-74 dari 79 negara.
Indikator-indikator tersebut telah
menjadi kekuatan pendorong bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan reformasi
kurikulum nasional terbaru. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa
dalam sistem pendidikan apa pun, penting untuk melihat kurikulumnya, karena
kurikulum adalah bagian utama dari sistem itu dan memainkan peran penting dalam
menentukan mengapa, apa, dan bagaimana siswa belajar dan diajar dalam sekolah.Menurut
Levin (2008), kurikulum didefinisikan sebagai pernyataan resmi tentang apa yang
diharapkan diketahui dan dapat dilakukan siswa. Kurikulum sangat penting di
negara-negara seperti Indonesia, yang mengadopsi sistem pendidikan terpusat.
Dalam sejarah pendidikan Indonesia modern, sejak
zaman kemerdekaan, telah terjadi beberapa kali perubahan (penyempurnaan)
kurikulum, yang sampai saat ini sekurang-kurangnya sudah terjadi 11 kali, yakni
8 kali terjadi sebelum era otonomi daerah dan 3 kali terjadi setelah era
otonomi daerah, yaitu kurikulum 1947, kurikulum 1964, kurikulum 1968, kurikulum
1973 (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan), Kurikulum 1975, Kurikulum 1984,
Kurikulum 1994, Kurikulum SMK 1999 (Kurikulum 1994 yang disempurnakan),
kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan), Kurikulum 2013 (Kurikulum yang menekankan pengembangan
pengetahuan, ketrampilan, dan sikap secara holistic, berbasis kompetensi). (Herry
Widiastono, 2014).
Terkait dengan kurikulum
matematika sekolah di Indonesia, Soedjadi (1992) pernah mengklasifikasikan
reformasi panjang ini ke dalam era-era berikut: sebelum 1975, era matematika
modern, kembali ke 'matematika tradisi', era terintegrasi. Literatur tentang
pendidikan matematika Indonesia secara keseluruhan sangat terbatas terutama
mengenai sejarah kurikulum matematika. Ini bahkan sejak tahun 1970-an,
kebijakan reformasi pendidikan di Indonesia telah berjalan dalam konteks
perluasan sumber daya manusia untuk tujuan pembangunan nasional dan terlebih
lagi, ada peningkatan kesadaran di antara para sarjana di Indonesia bahwa perlu
meningkatkan pengajaran matematika di sekolah.
Berikut penjabaran terkait
perkembangan kurikulum matematika di Indonesia yang di sajikan pada paper A
Historical Overview of Mathematics Curriculum Reform and Development in Modern
Indonesia.
Kurikulum Matematika Pra-Modern (sebelum 1975)
Sejak Indonesia merdeka pada tahun
1945, matematika sebagai mata pelajaran sekolah telah menjadi program wajib di
seluruh pendidikan sekolah, yaitu, dari sekolah dasar (Kelas 1-6), sekolah
menengah pertama (Kelas 7-9) hingga sekolah menengah atas (Kelas 10-12). Namun,
sebelum tahun 1975, pengajaran matematika sebagian besar dipengaruhi oleh teori
pendidikan matematika Barat, dan khususnya, teori behaviourism dari Skinner. Pelajaran
disampaikan melalui pedagogi mekanistik. Siswa dilatih untuk menghafal konsep
matematika tanpa memahaminya. Misalnya dalam pembelajaran geometri, difokuskan
pada pengembangan keterampilan berhitung, dan siswa belajar bagaimana
menghitung luas dan volume objek geometris tanpa memahami arti luas dan volume.
Kurikulum matematika di Indonesia sebelum
1975 dilaksanakan berdasarkan untaian matematika yang terpisah seperti aljabar,
geometri dan trigonometri. Mengenai isi kurikulum, aritmatika diajarkan di
sekolah dasar, aljabar dan geometri bidang diajarkan di sekolah menengah
pertama (kelas 7-9), sementara di sekolah menengah atas siswa belajar aljabar
yang lebih kompleks, geometri ruang, dan geometri analitik. Kritik utama dari
kurikulum ini adalah bahwa itu tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap
hubungan antara berbagai bidang dan topik matematika (Russfendi, 1976).
Kurikulum Matematika Modern (1975)
Pada tahun 1973, pemerintah
Indonesia menerjemahkan “Entebbe Mathematics Series”, yang dikembangkan
pada pertengahan 1960-an terutama oleh para ahli matematika dan pendidik
matematika AS dan Inggris, dan ditujukan terutama untuk negara-negara Afrika
(Williams, 1971). Seri terjemahan kemudian digunakan sebagai buku teks
matematika utama di Indonesia. Proyek terjemahan ini adalah awal dari
implementasi matematika modern dalam pendidikan matematika Indonesia.
Pada tahun 1975 pemerintah
Indonesia secara resmi menerapkan kurikulum baru yang sangat dipengaruhi oleh
gerakan matematika modern atau "matematika baru". Menurut Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, kurikulum matematika pada periode ini ditandai
dengan kriteria berikut (Depdikbud, 1976):
- Topik baru diperkenalkan, yaitu Himpunan, Statistik, Peluang, Relasi dan Fungsi, dan Geometri Non-Metrik
- Lebih banyak fokus ditempatkan pada pengembangan pemahaman daripada keterampilan menghafal dan perhitungan
- Perhatian diberikan pada kontinuitas antara topik di sekolah dasar dan menengah;
- Kebutuhan siswa yang heterogen atau berbeda terakomodir;
- Pembelajaran yang berpusat pada siswa ditekankan.
Geometri Bidang dan Geometri Ruang
yang pada kurikulum sebelumnya di berikan pada tingkat yang berbeda, pada
kurikulum ini diajarkan ada tingkat yang sama yaitu kelas 11.
Terkait dengan pendekatan pembelajaran,
pendekatan deduktif digunakan tidak hanya dalam geometri tetapi juga dalam
aljabar pada sekolah menengah. Namun, pendekatan induktif masih digunakan untuk
siswa sekolah dasar. Selain itu, periode pada kurikulum ini sangat dipengaruhi
oleh psikologi perilaku yang menekankan rangsangan terhadap respons dan latihan
(drill). Selain itu, teori Piaget dan Bruner juga memainkan peran penting dalam
membentuk pendekatan pengajaran yang dianjurkan dalam praktik kurikulum dan
ruang kelas pada periode ini.
Pada tahun 1983, kurikulum
berbasis matematika modern ini dianggap tidak lagi sesuai untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat dan tuntutan sains dan teknologi. Perubahan baru untuk kurikulum matematika baru pun terjadi.
Kurikulum Terintegrasi Teknologi (1984)
Pemerintah Indonesia memutuskan
untuk mengembangkan dan menerapkan kurikulum baru mulai dari tahun 1984.
Sebenarnya tidak ada perubahan signifikan dalam hal cakupan topik matematika
dalam kurikulum baru, dibandingkan dengan yang sebelumnya (Depdikbud, 1987).
Namun, tiga fitur baru membuat kurikulum matematika baru ini sangat penting.
Pertama, kurikulum ini mengisyaratkan upaya dan
arahan kebijakan untuk mengintegrasikan teknologi modern ke dalam pengajaran
dan pembelajaran matematika di ruang kelas. Khusunya, kalkulator diperkenalkan
ke dalam pengajaran matematika. Kedua, ada perubahan penting dalam urutan dan
struktur isi matematika dalam kurikulum. Sebagai contoh, beberapa topik seperti
algoritma, trigonometri, dan transformasi dipindahkan dari tingkat sekolah
menengah atas ke tingkat sekolah menengah pertama (Depdikbud, 1987). Ketiga,
pendekatan "spiral" sebagai pedagogi diadopsi dalam kurikulum baru.
Pendekatan "spiral"
tercermin dalam luas dan kedalaman bahan belajar, sehingga semakin tinggi
tingkat sekolah, semakin luas dan kedalaman bahan dan pelajaran diberikan pada topik
yang sama.
Mengenai pendekatan pengajaran, Depdikbud
merekomendasikan agar pendekatan CBSA diadopsi untuk pembelajaran dan
pengajaran di semua sekolah (Depdikbud, 1987). CBSA adalah pendekatan
pengajaran yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk secara aktif terlibat
dalam proses pembelajaran dan dengan harapan bahwa siswa mendapatkan pengalaman
belajar yang maksimal, dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik
(Pardjono, 2000). Secara internasional, kurikulum ini sebagian besar
dipengaruhi oleh psikologi perkembangan Piaget (Flavell, 1967). Namun, seperti
yang dicatat Fauzan (2002), implementasi kurikulum baru ini juga memperjelas
sejumlah masalah dan khususnya, yang berikut:
- Kelebihan mata pelajaran di tingkat sekolah dasar, yang mengakibatkan fakta bahwa para siswa sering tidak memiliki cukup waktu untuk menguasai subjek apa pun yang diberikan.
- Kurangnya penilaian yang berkelanjutan tentang kemajuan siswa.
- Implementasi yang tidak memuaskan dari prinsip-prinsip pembelajaran aktif.
Oleh karena itu, semua masalah ini
telah menimbulkan kritik yang kuat dari orang tua dan masyarakat (Depdikbud,
1997), alasan bagi pemerintah untuk mengembangkan kurikulum matematika baru
lainnya.
Back-to-Basic Curriculum (1994)
Pada tahun 1994, reformasi
kurikulum di Indonesia ditandai oleh perubahan konten kurikulum dan pendekatan
pengajaran, terutama di tingkat sekolah dasar. Depdikbud (1994) menunjukkan
bahwa tujuan utama pengajaran matematika dalam kurikulum 1994 adalah:
- Siswa mampu secara efektif dan efisien berurusan dengan dunia yang dinamis berdasarkan pada penalaran logis, pemikiran rasional dan kritis.
- Siswa mampu menggunakan matematika dan penalaran matematika dalam mempelajari mata pelajaran lain.
- Siswa memiliki sikap kritis, ketekunan, dan penghargaan matematika.
- Siswa memahami matematika secara deduktif.
Dari tujuan pengajaran matematika tersebut,
terlihat sejak 1994 kurikulum matematika Indonesia sudah memberikan banyak
perhatian pada aspek-aspek penting pendidikan matematika seperti mengembangkan
penalaran dan keterampilan siswa untuk menangani masalah kehidupan nyata, yang
tidak secara jelas dinyatakan dalam kurikulum sebelumnya. Tujuan-tujuan ini
mirip dengan yang dinyatakan oleh NCTM (2000) bahwa kurikulum matematika harus
mempersiapkan siswa untuk menyelesaikan masalah di berbagai sekolah, rumah dan
lingkungan kerja. Untuk mencapai tujuan utama pengajaran matematika, tujuan
pengajaran khusus disediakan oleh pemerintah untuk para guru dalam kurikulum.
Dalam praktiknya, tidak selalu tepat
dalam menentukan tujuan instruksional untuk beberapa tujuan utama pengajaran
matematika dalam topik tertentu, oleh karena itu tujuan utama dapat menjadi
kabur. Misalnya, dalam pengajaran geometri, tujuan pembelajaran spesifik dalam
kurikulum 1994 difokuskan pada mengingat definisi objek geometri dua dimensi
dan tiga dimensi seperti persegi, kubus, prisma, dan menghafal karakteristik
objek-objek ini, tetapi tidak mengacu pada lebih banyak tujuan luas dari
pembelajaran geometri seperti pengembangan kemampuan penalaran logis (Suydam,
1983) atau interpretasi ruang dan lingkungan (Moeharty, 1993). Tampaknya tujuan
pembelajaran tertentu tidak selaras dengan tujuan utama pengajaran dan
pembelajaran matematika seperti yang disebutkan sebelumnya.
Dalam hal isi matematika,
perubahan mendasar diamati untuk kurikulum matematika sekolah yang baru.
Penekanan ditempatkan pada penguasaan siswa pada prinsip-prinsip dasar
matematika, khususnya di tingkat sekolah dasar, di mana matematika
"tradisional" dengan fokus pada keterampilan perhitungan mendapat
perhatian lebih dalam kurikulum ini (Depdikbud, 1994). Dalam pengertian inilah
kami menyebutnya kurikulum yang direformasi ini “kurikulum back-to-basics”.
Namun, gagasan untuk kembali ke dasar yang ditekankan dalam kurikulum tampaknya
bertentangan atau tidak sejalan dengan salah satu tujuan utama kurikulum,
yaitu, siswa diharapkan dapat menggunakan matematika dan penalaran matematika
dalam kehidupan sehari-hari mereka.. Akan menarik untuk melihat alasan di balik
perubahan ini. Sayangnya dalam paper ini , penulis tidak dapat menemukan
literatur tentang masalah ini, juga tidak dapat menghubungi pengembang
kurikulum untuk mengumpulkan informasi dan membuat klarifikasi karena ruang
lingkup penelitian ini, batasan yang menuntut upaya lebih lanjut dalam studi
selanjutnya.
Kurikulum dengan Konten Dikurangi (1999)
Karena memiliki konten yang
terlalu berat bagi guru dan siswa untuk dilalui, kurikulum 1994 kemudian
dianggap kelebihan beban. Selain itu, kurikulum 1994 tidak fleksibel sehingga
guru tidak dapat menemukan ruang yang memadai untuk mengembangkan kreativitas
siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Banyak guru mengeluh karena
memiliki terlalu banyak topik, waktu yang terlalu terbatas untuk mengajar, dan
siswa mengeluh tentang terlalu banyak latihan dan terlalu banyak pekerjaan
rumah untuk diselesaikan dalam satu tahun ajaran.
Oleh karena itu, pemerintah
memutuskan untuk membuat beberapa penyesuaian dalam kurikulum matematika
nasional. Kurikulum matematika yang baru dirilis oleh pemerintah Indonesia pada
tahun 1999. sebagian besar merupakan penyederhanaan dari kurikulum 1994. Salah
satu fitur paling penting dari kurikulum baru ini adalah mengurangi apa yang
disebut topik yang tidak relevan atau tidak penting seperti himpunan dan
pengantar teori graf (Fauzan, 2002). Sayangnya, penulis tidak dapat menemukan
literatur mengenai mengapa topik ini, khususnya, dianggap tidak relevan oleh
para reformator pemerintah pada waktu itu.
Kesimpulan
Sejak tahun 1970 sejumlah
penelitian telah menunjukkan kelemahan
pengajaran matematika di Indonesia. Siswa Indonesia merasa sulit untuk memahami
konsep matematika, dan pendekatan pengajaran yang umum digunakan di ruang kelas
membuat matematika lebih sulit untuk dipelajari dan dipahami. Selain itu, hasil
ujian nasional menunjukkan bahwa matematika secara terus-menerus merupakan mata
pelajaran dengan skor terendah (Depdikbud, 1997).
Reformasi kurikulum matematika
Indonesia sebagian besar dipengaruhi oleh tren di negara lain. Misalnya, ketika
"matematika modern" menjadi gerakan dominan di seluruh dunia,
pemerintah Indonesia menerapkan kurikulum baru yang dibingkai oleh tren baru
ini. Matematika modern mendapat peringkat tinggi dan diharapkan memberi siswa
Indonesia kesempatan yang baik untuk belajar matematika secara lebih efektif. Sayangnya, dan dalam praktiknya, banyak guru
melaporkan banyak masalah dengan pendekatan ini karena matematika modern
terlalu sulit untuk dipelajari oleh siswa mereka.
Seperti yang telah dicatat oleh para peneliti,
meskipun reformasi kurikulum tidak hanya berfokus pada konten matematika tetapi
juga pada pendekatan pengajaran, pengajaran dan pembelajaran matematika di
sekolah-sekolah Indonesia tetap mekanistik, dengan guru cenderung mendikte
formula dan prosedur kepada siswa mereka. Oleh karena itu, tampaknya reformasi
kurikulum selama lima dekade terakhir gagal membawa dampak signifikan pada
pengajaran di kelas dan prestasi siswa dalam belajar matematika. Ini
menunjukkan tantangan dan kompleksitas reformasi dalam pengembangan kurikulum.
Sumber Primer:
Mailizar, M., Alafaleq, M., & Fan, L. (2014). A
Historical Overview of Mathematics Curriculum Reform and Development in Modern
Indonesia. Inovacije u Nastavi, 27(3), 58–68.
https://doi.org/10.5937/inovacije1403058m

Comments
Post a Comment