KONSEP DASAR PEMBELAJARAN MATEMATIKA SINGAPURA
Matematika merupakan
salah satu mata pelajaran yang sering dikeluhkan oleh siswa karena sulit dan
membosankan hanya membahas tentang perhitungan saja, menggunakan rumus dan
mengolah angka-angka. Hal tersebut terjadi bukan karena salahnya “matematika”
nya tetapi bisa terjadi karena cara mengajarkan matematika ke siswa yang mengakibatkan
persepsi siswa bahwa matematika itu sulit untuk dipahami. Persepsi siswa seperti
itu masih banyak ditemukan di sekolah-sekolah Indonesia. Matematika menjadi momok
yang kalau bisa harus dihindari oeh
siswa. Fenomena ini berbanding lurus dengan hasil dari laporan PISA (Programme
for International Student Assessment) 2018 yang menunjukan bahwa Indonesia
berada pada peringkat 74 dari 79 negara peserta dalam kategori membaca, sains
dan matematika. Skor matematika mengalami penurunan dibandingkan tahun 2015
yaitu dari 386 menjadi 379. Tentumya ini merupakan peringatan dan menjadi pekerjaan
rumah kita semua, terutama orang-orang yang bergelut di bidang pendidikan
matematika untuk menemukan formula dalam mengajarkan matematika yang menyenangkan,
sehingga muncul kegembiraan siswa dalam beajar matematika.
Beberapa negara
tetangga Indonesia jika dilihat dari hasil PISA 2018, peringkatnya berada di
atas Indonesia, seperti Malaysia, Thailand dan Singapura. Singapura merupakan
saah satu negara dengan system pendidikan terbaik di dunia, salah satunya
terlihat dalam peringkat PISA 2018 yang berada di peringkat 2. Secara demogarfis,
Indonesia dapat belajar dari negara-negera tersebut terkait sistem pembelajaran
matematika. Memang nantinya kita tidak dapat untuk menerapkan mentah-mentah apa
yang diterapakan di sana, karena perbedaan jumlah penduduk, luas wilayah dan
karakteristik lainnya. Tetapi tidak ada salahnya melihat bagaimana pembelajaran
matematika yang dikembangkan di sana.
Kurikulum matematika
di Singapura dirancang untuk memenuhi kebutuhan siswa dan disesuaikan dengan
kemampuan mereka. Siswa memperoleh dan menerapkan konsep dan keterampilan
matematika; mengembangkan keterampilan kognitif dan metakognitif melalui
pendekatan matematika untuk pemecahan masalah; dan mengembangkan sikap positif
terhadap matematika. Focus kerangka kerja kurikulum singapura adalah pada
pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa melalui lima komponen
integral yaitu, konsep, keterampilan, proses, sikap, dan metakognisi. Kurikulum
dikembangkan oleh Departemen Pendidikan untuk semua sekolah dan mengadopsi
pendekatan spiral (penanaman konsep dari hal yang sederhana dari kongkret ke
abstrak, dari intuit ke analaisis, dari eskplorasi ke peguasaan dalam selang
waktu yang terpisah mulai dari tahap paling rendah hingga paling tinggi).
Pendekatan spiral ini digunakan dalam desain
silabus matematika dari sekolah dasar. Di setiap tingkat, silabus terdiri dari
beberapa konten (misalnya bilangan dan aljabar, geometri dan pengukuran,
statistik dan probabilitas), memfasilitasi koneksi dan hubungan antar lintas materi.
Setiap konten akan di pelajari kembali dan lebih mendalam dalam setiap level
pendidikan. Ada perbedaan dalam konten, kecepatan dan fokus di antara silabus
dalam tingkat yang sama untuk memenuhi profil siswa yang berbeda. Silabus
adalah panduan bagi guru untuk merencanakan pembelajaran matematika mereka. Guru
tidak terikat oleh urutan topik tetapi memastikan bahwa hierarki dan hubungan
dipertahankan. Guru bebas untuk melatih fleksibilitas dan kreativitas ketika
menyusun rencana kerja yang berfungsi sebagai Patoka untuk mengimplementasikan
program pengajaran. Buku teks adalah bagian penting dari kurikulum matematika
di Singapura yang diproduksi Divisi Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum
(CPDD) di Departemen Pendidikan. Semua buku pelajaran yang digunakan di sekolah
harus memiliki persetujuan dari Departemen Pendidikan Singapura.
Metode pembelajaran
matematika di Singapura berfokus pada pengembangan pemahaman konsep sebelum mengajarkan
prosedur, dimana guru menerapkan pendekatan langsung dan visual dalam mengajar
dan memunculkan rasa yang kuat terkait dengan sense of number dan pemecahan
masalah. Pembelajaran matematika di Singapura mempunyai filsofi umum yang harus
dipahami, yang memiliki 5 komponen yaitu Konsep, Keterampilan, Proses, Sikap, dan
Metakognisi. Kelima komponen ini adalah kunci untuk pengembangan kemampuan
pemecahan masalah matematika. Konsep mengacu pada konsep numerik, aljabar,
geometris, statistik, probabilistik, dan analitik. Keterampilan mengacu pada
perhitungan numerik, manipulasi aljabar, visualisasi spasial, analisis data,
pengukuran, penggunaan alat matematika, dan estimasi. Proses mengacu pada
penalaran, komunikasi dan koneksi, keterampilan berpikir dan heuristik, dan
aplikasi dan pemodelan. Sikap mengacu pada kepercayaan, minat, penghargaan, dan
ketekunan. Metakognisi mengacu pada pemantauan pemikiran seseorang dan
pengaturan belajar sendiri.
(https://www.wikihow.com/Teach-Singapore-Math#/Image:Teach-Singapore-Math-Step-1-Version-2.jpg)
Dalam memahami
konsep matematika, siswa perlu mempelajari masing-masing konsep matematika ini
- numerik, aljabar, geometris, statistik, probabilistik, dan analitis – dan perlu
belajar bagaimana siswa mengaitkan metari-materi tersebut. Siswa perlu diberi
pilihan bahan dan contoh untuk memahami konsep-konsep ini dan memahami
bagaimana mengkoneksikan materitersebut. Siswa juga harus dapat menerapkan
konsep-konsep ini dalam pemecahan masalah matematika secara aktif agar lebih
percaya diri dengan keterampilan matematika mereka.
Dalam mengembangkan
keterampilan matematika, siswa perlu belajar berbagai keterampilan matematika,
termasuk: perhitungan numerik, manipulasi aljabar, visualisasi spasial,
analisis data, pengukuran, penggunaan alat matematika, dan estimasi. Siswa membutuhkan
keterampilan ini untuk mempelajari dan menggunakan konsep matematika yang
mereka ajarkan. Namun, kunci mereka untuk Matematika Singapura adalah tidak
terlalu menekankan "bagaimana" dan kurang menekankan "mengapa".
Sangat penting bagi siswa untuk memahami mengapa prinsip matematika bekerja,
bukan hanya bagaimana menyelesaikan masalah matematika.
Proses
matematika, terkadang juga disebut sebagai keterampilan pengetahuan, termasuk
kemampuan seperti: penalaran, komunikasi dan koneksi, keterampilan berpikir dan
heuristik, dan aplikasi dan pemodelan. Semua keterampilan pengetahuan ini diperlukan
dan digunakan untuk lebih memahami masalah matematika dan proses yang digunakan
untuk menyelesaikannya. Penalaran - adalah kemampuan untuk menganalisis masalah
matematika tertentu dan mengembangkan argumen logis tentang masalah tersebut.
Siswa mempelajari keterampilan ini dengan menerapkan alasan yang sama untuk
masalah matematika yang berbeda dalam konteks yang berbeda. Komunikasi - adalah
bahasa matematika. Seorang siswa harus dapat memahami bahasa matematika dari
suatu masalah, dan mengekspresikan konsep, ide, dan argumen dalam bahasa yang
sama. Koneksi - adalah kemampuan untuk menghubungkan konsep-konsep matematika
bersama. Ini juga kemampuan untuk menghubungkan ide-ide matematika dengan mata
pelajaran non-matematika dan dunia nyata. Mampu membuat koneksi ini
memungkinkan siswa untuk benar-benar memahami apa yang diajarkan dalam konteks
kehidupan mereka sehari-hari. Keterampilan Berpikir - adalah keterampilan yang
dapat membantu siswa berpikir jalan melalui masalah matematika, dan dapat
mencakup: mengklasifikasikan, membandingkan, mengurutkan, menganalisis bagian
atau keseluruhan, mengidentifikasi pola dan hubungan, induksi, deduksi, dan
visualisasi spasial. Heuristik - mirip dengan keterampilan berpikir dan dibagi
menjadi empat kategori: kemampuan untuk memberikan representasi masalah (mis.
Diagram, daftar, dll.); kemampuan untuk membuat tebakan yang dihitung;
kemampuan untuk bekerja melalui proses dengan berbagai cara; dan kemampuan
untuk mengubah masalah agar dapat memahaminya dengan lebih baik. Aplikasi -
berarti menggunakan keterampilan pemecahan masalah matematika yang dikembangkan
siswa untuk berbagai alasan, termasuk masalah dan situasi setiap hari. Pemodelan
Matematika - mampu menerapkan representasi data untuk masalah tertentu dan
kemudian menentukan metode dan alat yang harus digunakan untuk menyelesaikan
masalah.
Sikap
matematika siswa terhadap matematika selalu mendapatkan reputasi buruk di
sekolah, karena matematika itu sulit dan membosankan. Sikap matematika adalah
konsep membuat matematika menyenangkan dan mengasyikkan sehingga pengalaman
anak-anak dalam belajar matematika adalah hal yang positif. Selain menyenangkan
dan menyenangkan, sikap matematika juga mengacu pada kemampuan bagi siswa untuk
mengambil konsep, metode, atau alat matematika yang telah mereka pelajari dan
menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari mereka yang sebenarnya. Jenis
aplikasi ini terjadi ketika seorang siswa memahami mengapa suatu konsep bekerja
dan menyadari situasi apa yang dapat diterapkan oleh konsep tersebut.
Guru memberikan
pengalaman metakognitif kepada siswa. Metakognisi adalah konsep yang berkiatan
dengan kemampuan untuk memikirkan bagaimana kita berpikir, dan secara proaktif
mengendalikan pemikiran itu. Ini digunakan untuk mengajarkan keterampilan
memecahkan masalah yang lebih baik kepada siswa tanpa membuat mereka kesulitan.
Beberapa cara metakognisi digunakan untuk mengajar matematika di Singapura antara
lain: Mengajar keterampilan memecahkan masalah dan berpikir secara umum
(non-matematika) dan menunjukkan bagaimana keterampilan ini dapat digunakan
untuk memecahkan masalah (baik matematika maupun non-matematika). Mintalah
siswa memikirkan masalah dengan keras, sehingga pikiran mereka terfokus hanya
pada masalah yang dihadapi. Memberi siswa masalah untuk dipecahkan yang mengharuskan
siswa untuk merencanakan bagaimana mereka akan memecahkan masalah, dan kemudian
mengevaluasi bagaimana mereka memecahkan masalah. Mintalah siswa untuk memecahkan
masalah yang sama menggunakan lebih dari satu metode atau konsep. Mengizinkan
siswa bekerja bersama untuk memecahkan masalah dengan mendiskusikan berbagai
metode yang dapat diterapkan.
Terdapat lima konsep dasar sebagai filosofi
pembelajaran matematika di Singapura yaitu Konsep, Keterampilan, Proses, Sikap,
dan Metakognisi dimana metode yang digunakan dengan menggunaka pendekatan
spiral, yang secara konsisten memperkenalkan konsep dalam suatu perkembangan. Mulai
dari konkret ke representasi visual dan kemudian ke yang lebih abstrak
(mempertanyakan dan memecahkan persamaan tertulis). Siswa diajar tidak hanya
untuk mengetahui bagaimana melakukan sesuatu tetapi juga mengapa itu berhasil. Konsep
dsaar ini bisa kita “borrowing” dalam pembelajaran matematika di Indonesia
dengan mengkaji terlebih dahulu mana yang sekira cocok untuk diterapkan di Indonesia.
Referensi:
Kaur, B., Soh, C. K., Wong, K. Y., Dindyal, J., Yen, Y. P., Loh, M.
Y., … Tan, L. C. (2015). Mathematics Education in Singapore. The Proceedings of
the 12th International Congress on Mathematical Education, 311–316.
https://doi.org/10.1007/978-3-319-12688-3
Kaur, B. (2014). Mathematics Education in Singapore - an Insider ’ S.
Journal on Mathematics Education, 5(1), 1–16.
https://www.wikihow.com/Teach-Singapore-Math

Comments
Post a Comment